|
Saturday, 04 February 2012 12:40 |
|
BERITASATU.COM - Indonesia memerlukan strategi pembangunan baru, yang menekankan keterlibatan semua lapisan masyarakat dan mengutamakan kepentingan nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah meningkat menjadi 6,5 persen pada kuartal ketiga tahun 2011 akan tetapi masyarakat belum juga merasakan kesejahteraan. Direktur Econit, Hendri Saparini mengatakan Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asean yang mengalami peningkatan jumlah penduduk miskin. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah orang miskin yang tinggal di Indonesia pada tahun 2011 hanya sekitar 30 juta. Namun, Bank Dunia melaporkan bahwa jumlah orang Indonesia yang bisa dikatakan untuk hidup dekat dengan garis kemiskinan sebesar 40 persen dari populasi. Mengutip data United Nations Development Program (UNDP), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia juga berada di bawah standar dunia.
|
|
Read more...
|
|
Sunday, 15 January 2012 20:10 |
|

Sebagai sebuah negara, Indonesia telah berevolusi dari jaman kolonialisme, revolusi hingga reformasi yang notabene sebagian besar didorong oleh semangat nasionalisme para pemuda dan mahasiswa yang ingin menyaksikan perubahan pada negerinya sendiri. The Indonesian Students World Symposium (ISWS) yang diprakarsai oleh persatuan pelajar-pelajar Indonesia sedunia atau Overseas Indonesian Student Association Alliance (OISAA) pada tahun 2009 dijadikan sebagai wadah bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia untuk mencari solusi atas tantangan yang dihadapi Indonesia dalam ekonomi global. Untuk mentransformasi Indonesia menjadi sebuah negara yang besar, adalah penting kiranya membangun sebuah semangat kewirausahaan dan kepemimpinan yang tinggi dikalangan para pemuda.
ISWS 2012 merupakan tindaklanjut dari ISWS 2011 yang semestinya dilaksanakan pada bulan November 2011 di Amerika, akan tetapi dikarenakan suatu hal maka dipindah ke Kuala Lumpur, Malaysia dengan topik pembahasan lebih kepada keorganisasian PPI Dunia ditambah dengan seminar sehari sebagai penguatan pemahaman tentang kondisi ke-Indonesia-an yang terkini.
Kegiatan ini yang akan diadakan pada tanggal 16-19 Februari 2012 di KBRI Kuala Lumpur, bertemakan "Think Global, Act Nasional" |
|
Saturday, 04 February 2012 12:35 |
|
RMOL. Ekonom dari Econit, Dr Hendri Saparini mengatakan Kemiskinan di Indonesia tidak akan pernah habisnya.
Dr Hendri menyampaikan hal itu dalam seminar bertajuk “Optimisme Ekonomi Indonesia 2012: Antara Tekanan, Ketidakstabilan dan Ketidakadilan” yang diprkarsai oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI)-Malaysia dan bekerjasama dengan Badan Perwakilan KNPI Malaysia, Insight Society, IPAMSU hari ini (28/1) bertempat di salah satu Universitas Malaysia.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) data, jumlah orang miskin yang tinggal di Indonesia pada tahun 2011 hanya sekitar 30 juta. Namun, Bank Dunia melaporkan bahwa jumlah orang Indonesia yang hidup dekat dengan garis kemiskinan sebesar 40 persen dari populasi.
|
|
Read more...
|
|
Saturday, 04 February 2012 11:47 |
|
Jurnas.com | PERSATUAN Pelajar Indonesia (PPI) memggelar seminar masalah ekonomi. Seminar dengan tema “Optimisme Ekonomi Indonesia 2012: Antara Tekanan, Ketidakstabilan dan Ketidakadilan” itu digelar di Kuala Lumpur, Sabtu (28/1). Salah satu pembicara seminar Direktur Econit, Dr Hendri Saparini menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,5 persen pada kuartal ketiga tahun 2011 belum serta-merta dirasakan seluruh masyarakat. “Kesejahteraan masyarakat belum meningkat secara signifikan,” katanya di Kuala Lumpur. Seminar ini adalah salah satu bentuk kepedulian Pelajar Indonesia di Malaysia terhadap kondisi bangsa Indonesia.
Dalam rilis yang diterima Jurnal Nasional, Sabtu, Ketua Umum PPI Malaysia Zulham Effendi mengatakan kajian ini juga merupakan tahap awal pendalaman permasalahan bangsa Indonesia, yang nanti akan dibahas pada Kongres Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se-dunia 2012, 16-19 Februari 2012 di Kuala Lumpur.
|
|
Read more...
|
|
Wednesday, 23 November 2011 00:32 |
|
KUALA LUMPUR- Pemimpin Indonesia masa depan harus memiliki jiwa “pahalawan” dan melakukan bakti kepada bangsa tanpa pamrih. Selain harus memahami perjalanan sejarah bangsa, para pemimpin bangsa harus menjunjung tinggi pluralism dengan mengedepankan kepentingan bangsa tanpa harus melihat agama, suku atau ras serta harus berani gugur demi memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Oleh karena itu, tanpa harus kehilangan sikap kritis atas ketidakadilan dalam penyelenggaraan negara serta pemerintahan yang terjadi di tanah air, generasi muda saat ini harus berani memutus “warisan” korupsi dari generasi sebelumnya tanpa harus bersikap anarkis.
Demikian kesimpulan seminar sehari dalam rangka Hari Pahlawan yang diselenggarakan Persatuan Pelajar Indonesia Malaysia (PPIM) di Aula Hasanuddin, KBRI Kuala Lumpur, Sabtu (12/11).
|
|
Read more...
|
|
|